Ayo Berbuatbaik!

Berbagi Sahur Batch #2 – Jakarta Timur 13 Juli 2013

Penjelajah sahur dan pemberi ‘Insya Allah’ kebaikan dan penyebar kebahagiaan layaknya Robin Hood. Berbeda dengan Robin Hood, dia mencuri uang dahulu untuk dibagikan kepada rakyat miskin, tetapi misi kali ini sangat berbeda. Tidak ada karakteristik Robin Hood di dalamnya.

Hujan turun pun memberikan banyak hidayah dan kesegaran pada semua orang, semua umat muslim di dunia. Kesejukan, ketenangan dan bersyukur masih diturunkan air dari awan yang memang fresh tidak ada sulingan dari manapun. Sabtu bertepatan pada tanggal 13 Juli 2013 di hari kelima di Bulan Ramadhan. Memang saat itu, dari siang, Tuhan menurunkan hujannya dengan lebat. Deras. Tetapi hujan ini tidak menyurutkan orang-orang untuk tetap beraktivitas.

11Komplek Duta Indah yang berlokasi di dekat pasar Pondok Gede, perbatasan antara Bekasi dan Jakarta Timur memang sering dan memang sudah menjadi langganan untuk banjir. Banjir memang tidaklah separah layaknya di kampung melayu atau jati negara. Banjir sepaha, sepaha orang yang memiliki tinggi badan 180cm, cukup tinggi. Motor mungkin bisa langsung ‘turun mesin’ jika mencoba melewati banjir itu.

Pemesanan 150 bungkus nasi. Cukup banyak. Dan kami memang memilih warteg yang memang sering dikunjungi orang, yang enak dan juga murah. Mencari 3 warteg yang sanggup membuat sebanyak 50 bungkus nasi. Berbagai lauk dihidangkan dengan hangat dan bisa dibilang, fresh from the oven.

Warteg yang berlokasi persis di depan komplek duta indah, Warteg Segar Ayu, memang ramai dan makanannya lumayan enak. Standar makanan warteg, pasti sudah kita ketahui apa saja menunya. Memang saya sudah kenal sebelumnya dengan sang pedagang. Mbak-mbak yang berasal dari Jawa, tidak tahu Jawa mana dirinya berasal, ayu parasnya. Dan memang pas jika wartegnya dinamai segar ayu. Penjualnya segar dan berparas ayu. Warteg ini menyediakan menu ayam dan sayur seharga 11 ribu plus air mineral.

Untuk warteg yang kedua, namanya mempesona. Tidak ada yang salah dengan namanya. Nama warung tidak se-mempesona dengan pemiliknya. Bapak-bapak pemiliknya. Warung ini memberikan pelayanan yang sangat memuaskan kepada supir angkot. Letaknya memang dekat dengan lapo dan banyak juga ibu-ibu yang hadir untuk membeli menu makan siang mereka. Berlokasi di jalan raya Jati Kramat memberikan paket 11 ribu yaitu ikan balado dan sayur. Sayur yang diberikan tidak berkuah dan memang sengaja demikian karena ditakutkan akan terjadi basi.

Untuk warteg yang ketiga, memang ini warteg agak fenomenal. Gewart Dago.Warteg yang berisikan berbagai macam kalangan, dari yang jelek hingga yang tampan dan terkadang SPG pun tidak segan untuk masuk dan menawarkan barang dagangan mereka. Memiliki banyak macam menu dan memang punya cabang di Halim. Untuk yang sering ke Halim atau yang tinggal di dekat Halim pun pasti akan paham bagaimana rasa dan menu yang ditawarkan oleh warteg ini. Penjualnya adalah lelaki dan mereka biasanya memiliki seragam, layaknya perusahaan restoran lain. Untuk acara berbagi nasi ini, Gewart Dago yang dipilih adalah yang berada di dekat komplek Sahabat. Menu yang mereka berikan berbeda dari warteg sebelumnya. Memang saya sudah mengenal warteg ini dari jaman duduk di bangku sekolah menengah.

Jam 12 malam kami start dari arah lubang buaya. Bertemu dengan seorang penjual bakwan malang dan juga ada keluarga yang tinggal di warung kecil. Kebetulan ada teman yang tinggal di daerah lubang buaya, tepatnya di jalan SPG 7. Bersama-sama, kami berenam memberikan nasi kepada warga yang tinggal di derah tersebut. Banyak sekali gang kecil disana dan bapak-bapak tua yang sudah renta. Sekitar 20 bungkus habis sudah diberikan di daerah tersebut.

5

Sebelumnya, saya, Fakhran bersama tetangga saya yang bernama Indra, naik motor sambil membawa 4 kerdus nasi.

Warteg pertama dan kedua telah selesai memberikan 50 bungkus dari masing-masing. Dan malam itu memang sedang turun hujan lebat-lebatnya. Kami pun singgah di warteg Dago. Sambil ngopi dan menunggu hujan reda, alhasil kami membawa 4 kerdus yang berisikan 100 bungkus nasi dan 2 kantong berisikan masing masing 25 bungkus nasi dan air. Kami sudah menyiapkan doa di dalam secarik kertas. Doa yang dituliskan adalah lafal Basmalah, doa sebelum makan dan doa maensyukuri nikmat.  Sebanyak 150 kertas sudah difoto kopi dan akan dibagikan bersamaan saat berbagi nasi.

Motor yang digunakan adalah vario 2-2nya. Lubang buaya memang tempat bermain saya. Dari SD hingga SMA saya bersekolah disana. Teman saya menawari saya untuk memindahkan kerdus ke mobilnya. 4 kerdus pun dipindahkan ke dalam mobil, saya dan indra tetap membawa motornya masing-masing. Dari lubang buaya bergerak menuju kali malang. Suasana saat itu memang gerimis. Syukurnya banyak orang, seperti pemulung, tukang pendorong gerobak makanan (bukan pecel ayam) dan kami langsung membagikan.

Dari Kalimalang bergerak menuju Pulogadung. Sepi. Hanya ada beberapa orang saja. Dari sana, langsung berjalan menyusuri bypass. Banyak. Lumayan banyak target yang harus diberikan nasi. Dari situ kami langsung bergerak ke kampung melayu. Banyak. Banyak sekali. Banyak sekali orang yang perlu diberikan nasi untuk sahur.

12

10

8

 

 

 

 

 

 

 

 

Di dekat stasiun kereta api, banyak sekali gelandangan yang tidur di emperan toko. 20-30 orang tidur disana. Kami pun dibantu seorang satpam. Satpam itu membangunkan para gelandangan dengan cara yang agak kasar. Dia membangunkan para gelandangan layaknya bukan orang, seprti hewan, memakai kaki. Saya juga akhirnya mengingatkan satpam untuk tidak membangunkan para gelandangan tersebut.

Saat selesai membagikan nasi ke para gelandangan yang sedang tidur di emperan toko dekat stasiun kereta api Kampung Melayu, mobil teman saya itu langsung diserbu oleh warga sekitar. Mereka aji mumpung ada makanan gratis dibagikan. Banyak sekali dibagikan sehingga habis sudah 3 kardus nasi bungkus di dalam mobil. Dengan kejadian seperti ini, kami harus berhati-hati jika ada orang, yang dia bukan gelandangan, atau profesi yang masih bisa bertahan hidup dengan baik, untuk tidak diberikan.

4

Batch1

 

Pelan – pelan dari stasiun kereta api menuju terminal Kampung Melayu. Banyak sekali gerobak. Gerobak yang memang biasa untuk memulung. Banyak dari mereka yang tidur di dalam gerobak tersebut. 7 gerobak yang kami temukan berisikan bapak-bapak tua, yang umurnya sudah 50-60 tahun sendirian di dalam gerobak. Kami membagikan langsung 2 bungkus nasi beserta air minumnya. Dari situ, kami menyusuri jalan Dewi Sartika. Keadaan pun sama saja seperti saat di jalan Otista.

Banyak tukang asongan yang memang mereka tidur di dalam gerobak. Kami pun iba dan langsung membagikannya. Dari Dewi Sartika, melewati pasar Keramat Jati. Kami mencari tukang becak. Beberapa ditemukan dan langsung dibagikan tanpa harus turun dari mobil.  Dari Cilititan, Kramat Jati dan berbelok menuju Tamini Square dan berbalik menuju Lubang Buaya.

2

Pukul tiga pagi saat itu. Sudah berisikan 4 bungkus nasi, kami memutuskan makan sahur di jalan dan untuk saya, satu bungkus memang kurang, saya akhirnya makan sahur lagi di rumah.

Bersyukur atas apa yang kita punya dan kita dapat. Semua itu anugerah. Selalu melihat orang yang berada di bawah kita. Setiap menit, detik dan jam bergulir, itulah waktu bagi kita untuk berbuat kebaikan,numpung masih bulan Ramadhan. Setiap aktivitas yang kita jalankan, bernilai amal dan akan diperhitungkan nanti di akhirat.  Sampai jumpa minggu depan di tempat yang berbeda dan cerita yang lebih seru tentunya.

Dilaporkan oleh:
Muhammad Fakhran Ramadhan
DoGoodThing Hero
Berbagi Sahur Batch #2
Jakarta Timur